Menguak Tabir Dosa Ekologi di Balik Proyek PLTP Sibayak (Bagian ke-6)

 

Bencana Mengintai dari Hulu Sungai Deli

SIAPA yang paling gelisah dengan gundulnya hutan lindung di lokasi eks sumur panas bumi SBY D dan meluasnya pembukaan hutan untuk lahan pertanian di  sisi kiri dan kanan jalan bekas lintasan jalur tambang geothermal Sibayak? Berada di lembah Sibayak, penduduk Desa Doululah yang paling mencemaskan terjadinya bencana alam. Penduduk Kota Medan yang berada 50 Km dari hulu Desa Doulu juga merasa cemas jika kerusakan ekologi di hutan Sibayak bertambah parah, sehingga tak heran pula kalau banyak NGO berbasis lingkungan di kota metropolitan ini yang tetap awas terhadap setiap kegiatan komersial yang berdampak merusak  hutan Sibayak.

 

Bagi masyarakat Desa Dolulu, kekhawatiran terutama terhadap kerusakan ekologi di blok SBY- D di punggung Gunung Sibayak yang masuk dalam kawasan hutan lindung Sibayak II/Register I/K. Berdasarkan peta kehutanan, sumur panasbumi SBY-D awalnya merupakan hutan lindung di ketinggian sekitar 1.600 meter dpl. Punggung gunung yang dipangkas akibat pembukaan proyek panasbumi praktis merubah fungsi hutan Sibayak sebagai daerah resapan air. Begitu juga dengan perambahan hutan yang semakin luas di Tahura Bukit Barisan menjadi ladang-ladang pertanian, seperti di sepanjang  jalan lintas SBY-B menuju SBY-D. Warga Doulu khawatir, pembukaan hutan pada kemiringan tanah di atas 45 derajat itu bakal mengundang bencana longsor atau banjir bandang pada musim hujan dan penurunan debit air sungai pada musim kemarau.

 

Kekhawatiran itu cukup beralasan. “Banjir bandang di desa kami akibat adanya penebangan hutan di atas Desa Semangat Gunung tempo hari sudah cukup mencemaskan warga di sini (Desa Doulu, red),“ kata Kepala Desa Doulu, Amos Ginting.

 

Desa Doulu memang berada di lereng Sibayak, di bawah Desa Semangat Gunung yang berketinggian 1.400 m dpl. Pada 29 Mei 2007, banjir bandang yang membawa hanyut kayu gelondongan menghantam rumah penduduk dan lahan pertanian. Banjir datang dari Sungai Petani dekat eksplorasi panasbumi. Luapan air dari hulu Sungai Petani tidak bisa tertampung. Akibatnya, penduduk menderita kerugian besar. Tanaman tomat, bawang pre, padi, dan beragam jenis tanaman hortikultura lainnya serta kolam ikan tergenang banjir.

“Bukan cuma ladang saya, Ikan yang ada di kolam tambak saya juga hanyut dibawa arus banjir,” kata Parta Sembiring, warga Doulu.

 

Tak cuma pertanian dan pemukiman penduduk di Desa Doulu yang jadi korban, salah satu objek wisata pemandian air panas di Lau Debuk-debuk juga diterjang banjir hingga rusak berat.


Menurut Amos Ginting, peristiwa itu merupakan banjir terbesar dari tiga kali  banjir sepanjang tahun 2007, yang tak pernah terjadi sebelum adanya proyek PLTP Sibayak. Penduduk menuding biang banjir bandang itu adalah Kepala Desa Semangat Gunung Kamsenadi Surbakti, yang dicurigai menebangi pohon-pohon besar untuk memasok kayu perancah ke PT Waskita Karya. Perusahaan ini adalah kontraktor rekanan untuk pembangunan gedung pembangkit listrik (power plant) PT Dizamatra Powerindo di Desa Semangat Gunung. Sekadar mengingatkan kembali, Dizamatra merupakan “makelar listrik“ yang mengolah uap panas bumi produksi Pertamina Geothermal menjadi energi listrik dan menjualnya ke PLN. Lokasi penebangan persis di belakang gedung tersebut.

 

Kepolisian Resor Karo sempat menahan Kamsena Surbakti terkait penebangan kayu yang dia lakukan pada akhir 2006. Tapi Kamsena membantah menebang kayu secara ilegal. Alasannya, lokasi penebangan merupakan lahan warisan orang tuanya turun-temurun. Dan kayu yang ditebang, katanya, untuk membuat lesung (alat menumbuk pada tradisional). Tak lama diperiksa, Kamsena kemudian dilepas polisi, meski alasan Kamsena menebang sejumlah pohon untuk membuat lesung itu menurut penduduk setempat sulit diterima akal sehat. 

 

Kepada Medan Bisnis, Kamsena mengaku ia memang ikut berbisnis memasok kayu untuk PT Waskita Karya. “Tapi itu kayu sah, saya beli di panglong. Kalau tidak dari panglong mana mau dia (Pertamina, Dizamatra, Waskita Karya, red),“ tukas Kamsenadi sembari memperlihatkan setumpuk dokumen pembelian kayu, yang menurutnya ia beli dari 10 panglong di Kota Brastagi.

 

Tapi Kades Doulu Amos Ginting tak mudah percaya begitu saja dengan ucapan Kades Semangat Gunung itu. “Bisa saja dia (Kamsenadi, red) bilang begitu. Kita punya saksi kok dari penduduk Semangat Gunung yang pernah bekerja di proyek itu. Saksi kita itu ikut membantu mengambil kayu dari hutan untuk perancah bangunan kantor PLTP Sibayak,” ujar Amos Ginting yang juga dikuatkan Kurniawan Tarigan, pemuda Desa Doulu yang pernah bekerja di PT Uber Sakti. Perusahaan itu merupakan salah satu rekanan PT Pertamina Geothermal untuk proyek pemasangan pipa gas panasbumi PLTP Sibayak. Ginting dan Tarigan masih merahasiakan saksi kunci itu dengan alasan perlindungan.

 

Lahan Kritis Semakin Luas

Pembukaan hutan untuk proyek panasbumi di hutan lindung Sibayak II Register I/K tanpa upaya reklamasi semakin menambah parah kerusakan ekologi di  kawasan Taman Hutan Raya Bukit Barisan yang sebelumnya juga sudah  carut-marut dijarah sindikat illegal logging, perambahan untuk pertanian dan pemukiman sampai pencurian humus.

 

Menurut data Balai Tahura Bukit Barisan, lahan kritis di Tahura wilayah Kabupaten Karo sudah mencapai 2.580 hektar akibat perambahan, pembalakan liar dan pencurian humus.  Sementara menurut catatan Forum LSM, sampai tahun 2002 sudah 700 hektar hutan lindung di Sibayak II Register 1/K yang rusak.

 

Karena itu, jika terjadi bencana di Desa Doulu dan Desa Semangat Gunung juga merupakan ancaman bencana bagi daerah-daerah di hilir. Dari penelitian aktivis lingkungan, kawasan hutan lindung Sibayak II merupakan daerah tangkapan air (sumber air) bagi Kabupaten Deliserdang, Langkat dan Kota Medan. Lebih dari 5 juta penduduk yang berada di ketiga kabupaten/kota itu mendapat pasokan air bersih dari kawasan tersebut.

 

Selain sebagai sumber air bersih, hutan lindung Sibayak II juga merupakan penyuplai air bagi pertanian dan industri di sepanjang sungai Deli, Sungai Belawan, Sungai Percut dan Sungai Belumai. Juga masih banyak warga masyarakat yang menjadikan sungai-sungai tersebut untuk mandi dan mencuci.

 

Sebagai catchman area (tangkapa air), Hutan Sibayak II juga merupakan sumber berkah bagi industri air minum dalam kemasan PT Tirta Sibayakindo (Aqua) di Desa Doulu, Kecamatan Brastagi, Kabupaten Karo.

 

Eksploitasi air permukaan dan air bawah tanah oleh industri air minum isi ulang di Kota Medan juga telah mendatangkan keutungan yang besar bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat, dan menjadi salah satu sumber pendapatan asli daerah Sumatera Utara. Selain itu ribuan hektar irigasi di sekitar Langkat dan Deliserdang mendapatkan pasokan air dari kawasan hutan lindung Sibayak II dan sekitarnya.

 

Karena itu, membiarkan kehancuran ekologi semakin parah di kawasan Tahura Bukit Barisan ini bukan saja berpotensi menenggelamkan Kota Medan, tapi juga  kerugian ekonomi yang sangat besar bagi Sumatera Utara.

 

Itulah mengapa hutan lindung Sibayak yang menjadi kawasan penyanggah dan fungsi tata air sangat berarti dan tak bisa disamakan dengan kawasan hutan lindung lainnya di propinsi ini. ##

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: