Menguak Tabir Dosa Ekologi di Balik Proyek PLTP Sibayak (Bagian ke-4)

 

Siasat Menyulap Jalan Tambang

jaln proyek

jaln proyek

 

 

·   erwinsyah

 

MESKI berada di ketinggian punggung gunung yang berhutan lebat dan bertebing curam, menuju lokasi sumur panas bumi SBY- D tidaklah sesulit yang dibayangkan. Saat ini, telah terbuka dua jalur membelah hutan Tahura Bukit Barisan dengan kondisi jalan beraspal mulus selebar 4-5 meter hingga ke puncak bukit SBY- D. Jalur alternatif merupakan jalan wisata Tahura dari Desa Jaranguda, Brastagi, yang sering dilalui turis atau para hiker untuk mendaki Gunung Sibayak. Sedangkan jalur utama masuk dari jalan lintas Sumatera (Jalinsum) Medan-Brastagi Simpang Desa Doulu, Kecamatan Brastagi, Kabupaten Karo, menuju obyek wisata hotspring (pemandian air panas) Desa  Semangat Gunung, Kecamatan Merdeka. Dari Desa di bawah kaki Gunung Sibayak ini perjalanan dilanjutkan ke SBY-D melalui jalan tambang  PLTP Sibayak.

 

Medan Bisnis yang menumpangi mobil Toyota Kijang kapsul memilih masuk dari jalinsum Medan-Brastagi Simpang Doulu, Kecamatan Brastagi. Simpang Doulu ini sekitar 50 km dari Medan atau 10 km lagi sebelum mencapai kota wisata Brastagi.

 

 

 

Melintasi jalan beraspal hotmix di Desa Doulu, mata dimanjakan dengan hamparan pertanian hortikultura seperti tomat, kubis/kol bunga, dan bawang prei (bawang daun). Sayur-sayuran dari Desa di lembah Gunung Sibayak ini, terutama bawang prei, dulu menjadi primadona ekspor ke Singapura, selain untuk Kota Medan. Kabarnya, sejak tingginya penggunaan pestisida, permintaan eskpor sayur-mayur dari desa seluas 3,50 km2 ini turun drastis.

 

Jalan lintas Desa Doulu menuju Desa Semangat Gunung sepanjang 4,5 km juga  telah ditetapkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karo sebagai jalan wisata. Sebab selain menjadi jalur utama ke Taman Wisata Alam (TWA) dan obyek wisata pemadian air panas Lau Debuk-debuk di Desa Doulu dan Desa Semangat Gunung, juga merupakan salah satu lintasan bagi para pecinta alam atau turis yang hendak mendaki Gunung Sibayak. Udara di desa ini terasa sejuk. Berada di ketinggian 1.300-1.400 meter di bawah permukaan laut (dpl), temperatur udara cenderung berada di antara 16-17 derajat celcius. Melintasi jalan selebar 4-5 meter ini, pelancong yang mengendarai mobil akan dikutip retribusi Rp 7.000 di pintu masuk TWA Desa Doulu.

 

Dari Desa Doulu menuju Desa Semangat Gunung, jalan wisata terus menanjak. Desa Semangat Gunung merupakan kampung terujung di kaki Gunung Sibayak. Dari desa ini, air Sungai (Lau) Petani mengalir ke lembah Sibayak di Desa Doulu yang topografinya berbentuk cekung. Fungsi hidrologi hutan Sibayak menjadi penopang utama kebutuhan warga terhadap air bersih yang langsung bersumber dari mata air. Lau Petani yang mengairi pertanian penduduk juga merupakan hulu dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Deli. Sungai Deli sendiri merupakan sungai utama yang membelah Kota Medan dan menjadi sumber air baku bagi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtanadi.

 

Seperti Desa Doulu, pertanian juga menjadi mata pencaharian utama penduduk Desa Semangat Gunung. Di perkampungan inilah proyek PLTP Sibayak eksisting. Selain lokasi sumur produksi PLTP Sibayak milik PT Pertamina Geothermal, di batas akhir Desa Semangat Gunung juga telah berdiri kokoh bangunan power plant (pembangkit listrik) PT Dizamatra Powerindo, mitra operasi Pertamina yang mengolah uap panas bumi menjadi energi listrik. Gedung pembangkit listrik PT Dizamatra dengan lahan seluas 1,2 hektar di punggung bukit eks hutan alam itu berseberangan dengan lokasi sumur panasbumi SBY-A.  Dari titik inilah, pintu masuk menuju lokasi proyek SBY-B dan SBY-D. Kondisi jalan tambang yang membelah kawasan Tahura Bukit Barisan ini juga sudah cukup mulus dengan aspal hotmix.

 

Sebelum Medan Bisnis menyusuri jalan tambang ini, posisi spidometer mobil “disetel“  ke angka nol, untuk mengukur panjang jalan di kawasan lindung yang dibuka PT Pertamina Gothermal sejak sepuluh tahun silam.

 

Lintasan khusus jalan tambang ini dimulai dari lokasi sumur panasbumi SBY- A di ujung Desa Semangat Gunung menuju lokasi sumur panasbumi SBY- B yang jaraknya kurang lebih 2 km menjorok ke dalam hutan. Tak ada tanda larangan masuk bagi masyarakat umum, sekalipun di sepanjang jalan sudah terpasang pipa-pipa raksasa yang menyalurkan gas panas bumi dari lokasi sumur produksi (up stream) SBY-B ke lokasi mesin generator (down stream) di SBY-A.

 

Dari SBY- B yang berada di tengah hutan, perjalanan dilanjutkan menembus kedalaman hutan sepanjang hampir 2 km hingga bertemu dengan persimpangan jalur wisata Tahura yang menjadi batas wilayah Desa Semangat Gunung-Desa Jaranguda. Persimpangan inilah yang menjadi titik awal tanjakan berat dan berliku sejauh hampir 1 km menuju lokasi sumur panasbumi SBY- D.

 

Tapi karena jalan mulus, mobil yang ditumpangi Medan Bisnis bisa melintasi jalanan terjal menanjak dengan tikungan-tinkungan tajam dan tebing yang curam  hingga mencapai lokasi eks sumur panasbumi SBY- D. Tak ada kesulitan berarti sekalipun di sebuah tikungan patah roda mobil yang ditumpangi sempat terpatar oleh tumpukan batu-batu kerikil dari ruas jalan yang terkelupas. Beruntung pula, longsor yang menumbangkan sebuah pohon besar di salah satu tikungan di mulut jurang tak sampai menutup badan jalan. Tak jelas, sejak kapan longsor itu terjadi.

 

Perjalanan dari SBY- A sampai ke SBY- D yang berjarak kurang lebih 5 km memerlukan waktu tempuh setengah jam pada kecepatan 30 km per jam. Mobil memang harus melaju pelan dan hati-hati, terutama mulai lintasan SBY- B, karena jalan yang berliku dan menanjak dengan sesekali melintas di sisi jurang. Dari referensi peta kehutanan, SBY-B juga sudah masuk dalam kawasan Tahura Bukit Barisan

 

Dalam surat perjanjian pinjam pakai kawasan hutan yang dikantunginya, PT Pertamina Geothermal mendapat restu membuka hutan lindung seluas 2,653 hektar di SBY-D dan membuka hutan untuk lintasan kendaraan atau mobilisasi alat berat menuju lokasi SBY- D sepanjang 2,32 km. Angka ini tak terpaut jauh dengan catatan spidometer mobil yang ditumpangi Medan Bisnis dari dari SBY- B ke SBY- D, yakni  sekitar 2,6 km.

 

Dalam aturan mainnya, jalan tambang dan non tambang yang dibuka di kawasan hutan hanyalalah bersifat sementara. Dari penelusuran dokumen peraturan kehutanan yang dihimpun Medan Bisnis, pada masa berlakunya izin pinjam pakai kawasan hutan untuk PT Pertamina Geothermal, ada aturan main yang harus dipatuhi dalam mengelola jalan eks tambang. Dalam Kepmenhut No 146/Kpts-II/1999 tentang Pedoman Reklamasi Bekas Tambang dalam Kawasan Hutan, perusahaan pertambangan dan energi diwajibkan melindungi dan mengamankan kawasan hutan yang dipinjam pakai dan menghutankan kembali (revegetasi) jalan tambang dan jalan non tambang setelah izin pinjam pakai selesai. Aturan main ini menguatkan UU No 11 Tahun 1967 dan Keputusan Menteri Pertambangan Energi No 1211.K/008/M.PE/1995 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Perusakan dan Pencemaran Lingkungan pada Kegiatan Pertambangan Umum. Itu artinya, untuk mencegah terjadinya perubahan peruntukan, jalan tambang di kawasan lindung itu harus dikembalikan kepada fungsinya semula sebagai kawasan hutan.

 

Menurut Kepala Desa Semangat Gunung Kamsenadi Surbakti, jalan tambang yang dibuka Pertamina Geothermal awalnya merupakan jalan tikus ke hutan desa, yang hanya dilalui beberapa warga yang kebanyakan berladang markisa di pinggiran hutan.

 

“Setelah dibuka dan diperlebar Pertamina, jalan itu bisa dilalui kendaraan roda empat. Tapi saat itu belum lagi beraspal. Saya yang meminta Pemkab Karo untuk mengaspal jalan itu dengan dana APBD,” ungkap Kamsenadi.

 

Alasan Pemkab Karo menyetujui pengaspalan jalan itu, kata Kamsenadi, untuk membuka isolasi Desa Semangat Gunung dengan Desa Jaranguda menjadi jalan wisata  alternatif ke kota wisata Brastagi sekaligus akses jalan untuk memasarkan hasil bumi.

 

Maka, jadilah jalan tambang di kawasan lindung Tahura Bukit Barisan itu terbuka untuk umum.  Pertamina sendiri—yang merintis pembukaan jalan itu—tidak bersungguh menjalankan amanat Kepmenhut 146/1999 yang mewajibkan pemegang kuasa pertambangan melakukan upaya perlindungan dan pengamanan atas kawasan hutan yang dipinjam pakai. Inilah, satu lagi dosa Pertamina Geothermal.

 

Tapi, menurut Kabid Teknologi Lingkungan Bapedalda Sumut Rosdiana Simarmata, perubahan fungsi jalan itu juga merupakan dosa Pemerintah Kabupaten Tanah Karo.  Pasalnya, untuk menggunakan jalan di kawasan lindung Tahura, bukan saja harus seizin menteri, tapi juga harus ada amdal.  “Sekalipun panjangnya hanya dua kilometer, kalau di kawasan lindung pembukaan jalan harus ada amdal. Itu diatur dalam Permen Lingkungan Hidup Nomor 11/2006,” tegasnya menyesalkan pengabaian dampak lingkungan yang justru dilakukan oleh pejabat pemerintah.

 

Perlunya amdal dalam pembukaan jalan di kawasan lindung untuk mencegah adanya  kepentingan-kepentingan lain di luar upaya pelestarian hutan seperti perambahan untuk perladangan dan illegal logging (pembalakan liar), cukup beralasan.

 

Buktinya, begitu jalan proyek tambang geothermal di kawasan lindung Tahura Bukit Barisan disulap menjadi jalan umum (jalan wisata), sepanjang kawasan lindung itu kini terjadi perambahan hutan.

 

                                                          ****

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: