Menguak Tabir Dosa Ekologi di Balik Proyek PLTP Sibayak (Bagian ke-1)

 

 PLTP Sibayak

 

 

Manis Kurang, Sepah Dibuang

 

Indonesia memiliki potensi panasbumi (geothermal) sebesar 27.791 MW. 80% sumber energi terbarukan ini berada di kawasan hutan lindung. Tidak memanfaatkan karunia Tuhan ini untuk mengatasi krisis listrik adalah sebuah kebodohan. Tapi membiarkan investor panasbumi merusak ekologi, mengabaikan reklamasi lahan dan sikap tak peduli atas munculnya dampak ikutan akibat pembukaan hutan lindung untuk eksploitasi geothermal adalah kebodohan lain.

 

Proyek Pembangkit Listrik Panasbumi (PLTP) Sibayak hanyalah sebuah cermin kecil tempat kita melihat bahwa elite bangsa ini—korporat dan birokrat—belum bersunggguh melindungi alam, yang memberikan kita sumber kehidupan.  Kalau untuk sepotong kecil kasus kerusakan ekologi ini saja pemerintah tidak becus mengatasinya, bagaimana  pula dengan Peraturan Pemerintah (PP) No 2/2008 yang memberi ruang lebih terbuka untuk “menyewa’ hutan lindung?

 

Dua pekan lagi, Hari Bumi kembali diperingati. Dan setiap jengkal kehancuran ekologi harus senantiasa diwaspadai. Kelalaian menjaga kelestarian hutan harus selalu diingatkan, sebelum alam bertambah murka.Untuk itulah reportase mendalam ini dipersembahkan.

 

 

 

 

HAMPARAN hijau di punggung Gunung Sibayak itu telah berubah menjadi bukit tandus. Di ketinggian sekitar 1.600 meter di bawah permukaan laut (dpl), bukit itu tak lagi rimbun dengan tanaman kayu hutan dan pakis-pakisan. Dulu, belasan tahun lalu, para pendaki gunung yang menjelajah Sibayak melalui jalan wisata Taman Hutan Raya  Bukit Barisan (Tahura Bubar) di perbatasan Desa Jaranguda-Brastagi, Kabupaten Tanah Karo, suka singgah sejenak untuk beristirahat dan berteduh di antara pepohonan menjulang tinggi di punggung Sibayak, sebelum melanjutkan perjalanan menaklukkan puncak gunung di ketinggian 2.094 meter dpl, yang jaraknya tinggal seperempat perjalanan.

 

Satu dasawarsa lalu, gergaji-gergaji mesin (chinsaw) telah memangkas zamrud khatulistiwa itu. Dan tangan-tangan buldoser menggerus punggung gunung menjadi lapangan tandus seluas lebih lima kali lapangan sepak bola, tanpa menyisakan lapisan hara.

 

Dari pantauan Medan Bisnis pada Kamis pagi 28 Februari 2008, lanskap alam di punggung sebelah barat Gunung Sibayak yang dulu kerap diselimuti kabut tipis berubah drastis.  Bentangan alam yang merupakan bagian dari buffer zone Tahura Bubar itu kini lebih menyerupai potret puncak gunung yang kering dan gersang, dengan lapisan permukaan tanah seperti batuan beku ultrabasa, yang menurut ilmu pertanian sulit ditanami lagi (revegetasi).

 

Satu-satunya yang mengisyaratkan bahwa di sana dulu pernah tumbuh subur tanaman vegetatif adalah sebatang pohon jenis pinus berusia muda setinggi orang dewasa yang tumbuh di sela-sela patahan cadas berbalut lumut. Selebihnya, hanya lapangan terbuka dengan permukaan bumi berlapis batu cadas dan batuan kapur. Kontras dengan lingkungan alam di sekelilingnya yang masih rimbun dengan pohon-pohon tinggi mencakar langit.

 

Ketika Medan Bisnis tiba di lokasi ini, arloji masih menunjukkan pukul 09.30 WIB. Seharusnya udara pagi di sini lebih menggigit dibanding dinginnya kota wisata Brastagi—15 km dari Gunung Sibayak—yang bertemperatur 17 derajat celcius. Tapi di di ketinggian punggung gunung ini, sweeter yang mambalut tubuh malah harus dilepas. Sengatan matahari langsung membakar kulit karena tak ada lagi rimbun pohon tempat berteduh. Udara pagi pun tak lagi basah. Angin yang membawa udara kering sesekali menghembuskan bau belerang dari kawah puncak Sibayak.

 

Itulah salah satu lokasi bekas eksploitasi geothermal (panasbumi) untuk Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) Sibayak. Pemegang kuasa pertambangannya adalah PT Pertamina Geothermal Energi. Di lokasi proyek yang dibiarkan terlantar bertahun-tahun itu banyak ditemui lubang-lubang besar menganga seperti bekas galian alat-alat berat, sumur-sumur bor yang terbengkalai dan kolam-kolam pengendapan yang tak terawat. Jumlah kolam besar dan kecil sekitar delapan unit. Ukuran terbesar mencapai 250 m2 dengan kedalaman sekitar 3,5 meter.

 

Penambangan panasbumi memang bukan jenis penambangan terbuka, karena menggunakan teknik pengeboran. Tapi pemandangan di lokasi bekas sumur geothermal itu seperti mementahkan klaim PLTP sebagai proyek energi ramah lingkungan. Di proses hilir (produksi), PLTP diakui membuang emisi gas yang rendah sehingga tidak berisiko besar mencemari udara. Tapi di proses hulu (tahap eksplorasi dan eskploitasi), selalu merusak. Lihatlah di lokasi ini, kegiatan penambangan panasbumi tak cukup hanya membabat hutan untuk pengeboran, tapi juga  memangkas punggung gunung untuk pembuatan sumur-sumur injeksi, kolam-kolam raksasa penampungan limbah, kolam pengendapan, sampai pembukaan jalan penghubung (jalan tambang) dari satu blok sumur panasbumi ke blok sumur panasbumi lainnya. Bisa dibayangkan bagaimana tingkat kerusakan ekologi di Tahura Bubar jika pengembangan eksplorasi menyebar ke hutan-hutan lindung. Ini bukan tidak mungkin. Karena menurut data Dinas Pertambangan Sumatera Utara, potensi panasbumi di Sibayak sebesar 130 Mwe. Sedangkan yang sudah dieksploitasi  oleh Pertamina sampai saat ini baru 12 MW.

 

Dalam peta pengembangan energi geothermal Sibayak yang berhasil diperoleh Medan Bisnis, lokasi bekas eksplorasi panas bumi di punggung Gunung Sibayak ditandai sebagai cluster (blok) Sibayak-D dan sudah tidak dilanjutkan lagi pengerjaannya pada tahun 2002 seiring berakhirnya izin pinjam pakai kawasan hutan yang dikantungi Pertamina sejak tahun 1997. Itu artinya, selama lima tahun SBY-D dibiarkan terbengkalai tanpa merehabilitasi kembali lahan kritis.

 

Lokasi SBY-D adalah tahap lanjutan setelah tahap awal pemboran 10 sumur sejak eksplorasi panas bumi Sibayak mulai dijajaki pada tahun 1991. Kesepuluh sumur tersebar di tiga blok, yang ditandai dengan blok SBY- A (5 sumur), SBY- B (4 sumur), dan SBY- C (1 sumur). Setiap blok memiliki luas area proyek sekitar 1-2 hektar, kecuali SBY- D yang membuka hutan lindung Sibayak II Register 1/K di Tahura Bubar seluas hampir tiga hektar.

 

SBY- A dan SBY- B berada di Desa Raja Berneh (Desa Semangat Gunung) yang berada persis di bawah kaki Gunung Sibayak. Di sisi jalan tambang SBY-A telah terpasang pipa uap panasbumi seukuran pinggang orang dewasa yang terhubung ke SBY-B sepanjang 2 km.

 

SBY- C berada di Desa Doulu, di lembah Sibayak, sebuah desa di Kecamatan Brastagi yang berdampingan dengan Desa Semangat Gunung, Kecamatan Merdeka. Lokasinya sekitar 1,5 km dari sisi timur SBY-A.

 

Nah, yang terpisah jauh di belantara hutan di punggung Gunung Sibayak adalah area proyek ekpslorasi SBY-D tadi. Jarak tempuhnya dari SBY-A sekitar 5 km. Tapi karena jalannya menanjak, curam dan berliku, butuh waktu setengah jam untuk sampai ke sana.

 

Dari data skunder yang dihimpun Medan Bisnis, Pada eksploitasi tahap awal PLTP Sibayak, hanya 5 sumur yang bisa dioptimalkan dari 10 sumur panasbumi yang ada. Kelima sumur panasbumi itu berasal dari blok SBY-B dan SBY-A. Sedangkan SBY-C batal dieksploitasi oleh Pertamina, sejak terulangnya peristiwa kecelakaan kerja di mana beberapa pekerja keracunan gas H2S (sulfur) akibat kebocoran pipa pemboran panasbumi pada Maret 2007. Menurut warga Doulu, dua tahun selumnya peristiwa yang sama pernah terjadi.

 

Meski SBY-C dan SBY-D ditutup, namun ada perbedaan perkembangan eksplorasi di kedua blok sumur panas bumi itu. Di SBY-C, adanya pemasangan pipa injeksi dan reservoar panas bumi sudah menandakan perkembangan dari tahap eksplorasi ke tahap eksploitasi. Sedangkan di SBY-D, peralatan geothermal sejenis sama sekali belum dipasang. Diduga, blok SBY-D merupakan kasus ketidaktepatan prediksi dalam melakukan eksplorasi di mana kapasitas panasbumi yang dihasilkan tidak sesuai harapan, sehingga terpaksa ditutup karena dianggap tidak memiliki  nilai ekonomis.

 

Pengamat rekayasa pertambangan, Oka Onwardhana, juga mengaminkan dugaan itu. “Ketika diprediksi, panasbumi ada di suatu tempat. Namun saat dibor dan dilakukan uji sumur untuk melihat kemampuannya, ternyata bisa saja lebih kecil dari prediksi sehingga tidak sesuai harapan,” katanya kepada Medan Bisnis.

 

Apa alasan tidak diteruskannya pengerjaan eksploitasi panasbumi itu, pihak manajemen PT Pertamina Geothermal masih tutup mulut. Sejak sering menjadi sorotan media menyusul terjadinya peristiwa banjir bandang dan kasus ledakan pipa uap panas bumi pada tahun 2007 di lembah Sibayak, PT Pertamina semakin menutup rapat pintu informasi untuk wartawan. Manajer Layanan Umum, Ottovard Tambunan dan humasnya Haris, yang dihubungi secara terpisah melalui telepon menolak dimintai keterangan.

 

“Nanti saya bicarakan dulu dengan pimpinan,“ kata Haris seraya buru-buru menutup telepon.

 

Kasus geothermal Sibayak menjadi contoh bagaimana sebuah kawasan hutan lindung yang digunduli untuk proyek energi panasbumi kemudian ditelantarkan begitu  saja ketika pemegang kuasa tambang gagal mengekploitasi panasbumi karena kapasitas produksinya tidak ekonomis.  

 

Berapa besar kehancuran ekologi bila terjadi banyak kegagalan eksplorasi dan eksploitasi di belantara hutan lindung? Bagaimana pula dampaknya jika reklamasi lahan tidak segera dilakukan begitu area bekas penambangan ditinggalkan?

 

Dalam kasus geothermal Sibayak-D,  lima tahun adalah waktu yang terlalu lama dalam pembiaran, tanpa mereklamasi lahan kritis untuk dikembalikan sebagaimana fungsi awalnya. Seperti mengunyah batang tebu muda: manis kurang, sepah dibuang!

 

 

 

 

================ BOX  =================

 

Pasang Surut PLTP Sibayak

 

 

MENDAPATKAN profil dan histori PLTP Sibayak ternyata tidaklah semudah dibayangkan. Manajemen PT Pertamina Geothermal selaku pemegang kuasa pertambangan (KP) dan PT Dizamatra Powerindo selaku mitra operasinya kurang familiar denga wartawan. Konfirmasi selalu direspon dengan hati-hati dan irit bicara. Jangan harap pula bisa meninjau area gedung  powerplant (pembangkit listrik) PT Dizamatra Powerindo di Desa Semangat Gunung,  kalau sebelumnya tidak membuat janji dengan manajer proyek. Dan kalau mereka tahu yang ingin berkunjung adalah wartawan, jangan harap banyak mendapatkan informasi yang memuaskan. Sikap itu mungkin bisa dimahfumi kalau mencermati seringnya wartawan menyoroti  masalah lingkungan dan sosial yang timbul selama pengerjaan proyek geothermal Sibayak.

 

Informasi dari website Pertamina juga tak banyak mendukung, karena tak memuat profil PLTP Sibayak. Tapi begitupun, tetap terbuka jalan untuk mendapatkan dokumen pendukung. Dengan bantuan berbagai pihak, Medan Bisnis berhasil menghimpun dokumen-dokumen berharga yang sebenarnya tak layak disembunyikan dari publik, seperti dokumen revisi amdal Geothermal Sibayak dan dokumen Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) Geothermal Electric Power Plant PT Dizamatra Powerindo dalam versi bahas Inggris serta dokumen perkembangan proyek geothermal  Pertamina. Dan inilah sedikit hasil rangkumannya:

 

Pembangkit Listrik Panasbumi (PLTP) Sibayak memiliki catatan sejarah yang panjang. Berawal dari eksplorasi yang dilakukan Pertamina Geothermal 17 tahun lalu menyusul terbitnya Keppres No 45 dan 49/1991 di mana pemerintah memberikan keleluasaan kepada Pertamina untuk mengusahakan energi geothermal dalam bentuk uap dan listrik serta menjualnya kepada PLN  ataupun badan usaha lain.

 

PT Pertamina berhasil mendapat wilayah kerja pertambangan (WKP) Sibayak yang memiliki potensi panas bumi 130 Mwe. Sebagai tahap awal, rencana menghasilkan energi listrik 2 MW diusahai dengan sistem own operation (Operasi Sendiri).  Sepanjang tahun 1991-1997, PT Pertamina mengeksplorasi sumur panas bumi masing-masing di blok/cluster Sibayak (SBY) A sebanyak 5 sumur dan SBY-B dengan 4 sumur. Keduanya eksisting di Desa Semangat Gunung, Kecamatan Simpang Empat (sekarang Kecamatan Merdeka), Kabupaten Tanah Karo. Sedangkan satu blok lagi yakni SBY-C (1 sumur) berada di Desa Doulu, Kecamatan Brastagi. Pengeboran tahap 1 ini selesai tahun 1992.

 

Pada  Maret  1997, PT Pertamina Geothermal mendapat izin pinjam pakai kawasan hutan dari  Departemen Kehutanan bernomor  640/KWL-5 th 7 Mrt 1997 untuk masa lima tahun. Dengan izin lahan seluas 2,653 hektar dan pembukaaan jalan sepanjang 2,32 km  itu, pengembangan panasbumi dilakukan di kawasan hutan lindung Sibayak II Register I/K yang diberi atribut sebagai blok sumur panasbumi SBY-D. Namun, proyek di SBY-D di ketinggian 1600 meter dpl ini dihentikan menyusul terjadinya krisis ekonomi.

 

Pemerintah kemudian menerbitkan Keppres No 5 Tahun 1998 yang menangguhkan dan mengkaji ulang proyek energi geothermal Pertamina di Sibayak, Kamojang, Lahendong, Salak, Derajat, Wayang Windu dan Dieng.

 

Dua tahu berselang, muncul Keppres No 76/2000 yang mencabut monopoli bisnis geothermal Pertamina.  Ketika Keppres No 15/2002 diterbitkan di mana proyek boleh dilanjutkan, PT Pertamina Geothermal yang tidak boleh memonopoli bisnis penjualan energi listrik panas bumi melakukan kontrak penjualan (energy sales contract) dengan PT Dizamatra Powerindo. Perusahaan yang berdiri pada 1994 ini menyiapkan turbin (generator) yang mengolah uap panas bumi hasil produksi PT Pertamina Geothermal menjadi energi listrik. Energi listrik ini selanjutnya akan dijual ke PT PLN.

 

PT Pertamina Geothermal sebelumnya telah menghasilkan sendiri suplai listrik berkapasitas 2 MW (PLTP Sibayak monoblock) dan sudah masuk ke sitem kelistrikan PLN Sumatera Utara. Sedangkan Dizamatra baru mulai mematangkan realisasi kerja samanya dengan Pertamina pada 2004 dan melakukan pembangunan pembangkit listrik  pada 2005. Pada tahun yang sama, perusahaan  yang dinakhodai oleh Roy Sarumpaet ini bersama sejumlah perusahaan nasional lainnya diboyong oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla ke Beijing.

 

Pada 1 September 2005, dengan disaksikan Wapres Jusuf Kalla, Dizamatra dan China National Electric Wire and Cable Imp/Exp Corporation menandatangani naskah nota kesepahaman (MoU) desain dan pembangunan fase pertama Sibayak Geothermal Power Plant senilai US$ 12 juta. Proyek ini merupakan fase pertama yang akan menghasilkan energi listrik sebesar 120 Megawatt. Fase itu juga meliputi pembangunan dua unit generator turbin geothermal yang masing-masing mampu memproduksi 5 Megawatt (2 x 5 MW). Awalnya direncanakan, dapat dioperasikan pada pertengahan 2007. 

 

Desember 2007, di Nusa Dua, Bali, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan secara simbolis 4 PLTP, satu di antaranya PLTP Sibayak 2 x 5 MW. Namun dari pantauan Medan Bisnis sampai Maret 2008, meski sudah diresmikan Presiden, suplai listrik tersebut belum masuk ke sistem kelistrikan PLN Sumut.  Penyebabnya?

 

“Masih ada sedikit masalah teknis dalam penyiapan turbin,“ kata Manajer Proyek Pembangunan Geothermal Electric Power Plant (GEEP) PT Dizamatra Powerindo,  Haryoto, dengan cara berbicara yang terkesan sangat hati-hati saat ditemui MedanBisnis di gedung PowerPlant Dizamatra Sibayak.

 

Apa masalah teknisnya? Ia merasa tidak berhak untuk menjelaskan soal teknis pembangkit. “Tanya saja ke Jakarta,” tandasnya tanpa bersedia memberikan nomor kontak person para petinggi Dizamatra di kantor pusat. (*)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PLTP Sibayak

PLTP Sibayak

 

 

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: